-----__-----
this is my creation
  • staff

No tittle part 5

Jam terus bergulir tanpa berhenti, menit terus berjalan, haris berganti hari , minggu berganti bulan..
Tersisah 5hari lagi sebelum waktu 1bulan yang diperintahkan Resa. Dan gue makin optimis kalo gue bisa mendapatkan hati Melisa walaupun selama ini dia hanya menganggap gue sebagai kakak kakakan ataupun sahabat sejatinya.
Dan tepat hari ini adalah ulang tahun gue, gue memang bukan orang yang suka merayakan pesta pesta gue hanya merayakan ulang tahun ini bersama keluarga gue ataupun pacar gue. Sedangkan sekarang gue tidak punya pacar satupun.dan hanya seorang Melisa cewek yang sedang dekat dekatnya dengan gue. Gue berfikir apa gue habiskan hari ini bersama Melisa aja ya.. Waktu itu kita pernah bertukar tanggal ulang tahun dan pastinya Melisa udah tau tanggal berapa gue ulang tahun. Tapi siang ini gak ada satupun sms ataupun telfon yang berisikan bahwa dia mengucapkan sekedar happy birthday ke gue.

Pucuk dicinta ulampun tiba, Melisa mengsms gue tapi ga sesuai yang di harapkan.

"San.. Hari ini jadi belajar ga? Mumpung gue ada waktu banyak. Dateng aja kerumah gue"

Gue pun dengan malas membalas pesan yang tak gue harapkan itu.
“Yaudah setengah jam lagi gue kerumah lo. Gue siap siap dulu”

Setelah sms itu terkirim gue bergegas masuk kekamar mandi dan dengan cepat mengguyur seluruh tubuh gue. Setelah itu gue bersiap siap menuju rumahnya Melisa.

Gue melonggok kedalam gerbangnya memberi tanda ke seorang satpam agar membukakan gerbang tersebut. Lalu gue memasukan motor dan menunggu Melisa hingga keluar.

"Ayo langsung masuk aja"katanya diikuti gue dari arah belakang.

"Kita belajarnya ditaman belakang aja ya udaranya lagi enak banget nih"

"Yaudah terserah lo mel"

Gue dan Melisa pun duduk di bangku yang menghadap ke arah taman yang terletak di belakang rumahnya. Tapi ga terdapat buku satupun di meja ini. Biasanya Melisa udah siap dengan buku buku fisikanya.

Melisa pamit sebentar masuk kedalam rumahnya entah ngapain, kurang lebih 15 menit lalu dia datang dan membuat gue kaget setengah mati. Dia datang dengan sebuah cake dan juga lampu lilin huruf 18 yaitu umur gue saat ini. Gue cukup terharu, gue ga menyangka dia akan seniat ini mengucapkan happy birthday kepada gue walaupun gue udah sering menerima surprise macam ini tapi cuman surprise dia yang membuat gue senang dan bahagia.

No tittle part 4

Saat gue sedang bercape cape dia ditengah teriknya matahari bermain basket, gue menepi ke pinggir lapangan menarik nafas panjang2. Gue meneguk habis botol air minum gue dan mengelap keringat gue dengan sapu tangan yang telah gue siapkan.

Tiba tiba seseorang memanggil gue dari arah belakang.

"Sandy.."

Sepertinya suara ini gak asing, saat gue menoleh kebelakang ternyata seseorang itu adalah Sharra, mantan gue beberapa minggu yang lalu. Yang gue tinggalkan begitu saja .

"Sharra.. Ada apa?" Kata gue bangkit dari tempat duduk gue tadi.

"Gue bisa ngomong sama lo? Tapi gak disini"

"Tunggu gue ambil barang2 gue dulu lo tunggu aja diparkiran motor"

Gue pun kembali ke teman teman gue mengambils tas gue dan kembali ke sharra yang telah menunggu gue di parkiran motor.
Kamipun naik ke motor dan gue mebawa dia kesebuah taman yang gak jauh dari lapangan tempat gue latihan tadi.

"Ada apa?"

"Kenapa lo ninggalin gue? Lo belom kasih gue alasan apapun"

Gue tertegun, memikirkan apa yang harus gue katakan sementara sharra mulai terisak.

"Gue gak baik shar buat cewe macam lo. Lo bisa dapet cowok yang lebih dari gue. Kalo lo terus terusan sama gue , gue takut buat lo semakin sakit"

"San. Gue ga butuh cowok lain gue cuman butuh lo. Gue gapapa tersakiti asal gue bisa sama sama lo terus" Sharra memeluk gue erat erat dan menangis.

"Hai. Lo gak boleh nangisin cowok macam gue. Air mata lo gak pantas buat gue"

"Bodo bodo bodo! Gue maunya lo"

Perlahan gue lepaskan pelukan itu dan gue pegang kedua bahunya.

"Lo pasti dapat cowok yang lebih dari pada gue , kalo lo bilang lo cuman mau gue. Oke gue harap lo dapat cowok seperti gue tapi yang gak pernah nyakitiin lo. Inget itu. Gue gak bisa bersama lo lagi karena gue…"Gue berhenti sejenak menarik nafas lalu mengatakannya ‘Udah sayang sama cewek lain. Semoga lo bisa ngelupain gue" gue mengusap kepala Sharra lalu menarik perlahan tangannya naik ke atas motor dan mengantar dia kembali kerumahnya.

Bukannya gue mau menyianyiakan sharra tapi memang benar dia terlalu baik untuk gue sakitin. Gue memang cowok brengsek yang menyia nyiakan cewek baik semacam dia apa lagi bentar lagi gue juga menyianyiakan Melisa..

Sampai dirumah gue baru ingat kalo nanti malam gue ada tugas fisika dan kali Ini gue sangat membutuhkan Melisa . Gue pun mencoba menelfon Melisa.

"halo.. Mel" sapa gue saat terdengar sapaan dari sebrang.

"Iya Sandy. Ada apa?"

"Bisa bantuin gue ga? Gue ada tugas fisika yang benar benar ga gue mengerti"

"Gue masih les. Selesai 15menit lagi"

"Yaudah nanti gue jemput ya."

"Ok". Melisa pun menutup telfon secara sepihak.

Gue pun cepat cepat mandi karena badan gue sangat lengket dan cepat menjemput Melisa. Baru juga gue mendarat ditempat lesnya, Melisa sudah keluar dari tempat lesnya dan cepat naik ke motor gue.

Gak lama kita sudah sampai di rumah Melisa , karena sudah malam gue ga membahas hal apapun yang penting tugas gue bisa terselesaikan dan gue bisa bebas dari tugas terkutuk itu.

Selesai mengerjakan tugas itu,Melisa menyuruh gue untuk tunggu sebentar dirumahnya karena satpamnya sedang ada keperluan lain dan harus meninggalkan rumah untuk beberapa saat dan sekarang gue lelaki satu satunya di rumah ini , maka dari itu Melisa menyuruh gue untuk nunggu sampai satpamnya kembali. Gue dan melisa pun makan malam berdua dirumahnya yang begitu sepi.

Saat sedang berhadapan dengan Melisa gue melirik dan memandanganya, tiba tiba dia melihat ke arah gue dan tersipu malu mukanya sangat amat merah.

Gue dan melisa pun main tatap tatapan sampe akhirnya gue membuang pandangan jauh ke piring yang berisi makanan gue lalu melanjutkan makan kembali.

Seusai makan malam,Sang satpam pun belom juga kembali. Hari makin gelap gue lirik jam yang terdapat di hp gue. Jam 8 lewat 35menit. gue dan melisa duduk duduk didepan rumahnya menatap langit yang sedang tersenyum.

"Tumben banget gue liat langit seramai ini"kata gue sambil melihat keatas dan melisa mengikuti apa yang gue lakukan.

"Iya sama. Biasanya cuman gelap gak jelas"

"Itu tandanya mau ujan, kalo banyak bintang kayak gini pasti gak bakal ujan deh"

"Halah sok tau. Einstein aja gak bisa menerka dengan tepat kapan terjadi hujan"

"Jelas aja einsten ga bisa nerka dia pakenya rumus sih sedangkan gue pake logika hehe"

"Dasar ngawur"

Gue hanya cengegesan kecil sampe akhirnya gue mendekat kan diri ke melisa yang terlihat kedinginan, dengan gentlenya gue copot sweeter yang gue pake dan memakaikannya ke melisa.

"Makasih ya"kata nya sambil menatap mata gue lekat lekat. Gue lihat dari matanya seperti ada yang ingin dikatakan namun terganjal.

"Sama sama. Lo lagi ada masalah?"

"Kok lo bisa tau? Apa di kening gue tertulis ya ? Lagi ada masalah gitu?"Ujar Melisa menunjuk keningnya.

"Haha enggak lah yah gue tau aja. Ayolah cerita aja sama gue kalo itu bisa membuat lo lebih baik"

"Hmmm… Gimana ya"melisa agak ragu mau berbicara apa, matanya gak lagi menatap langit langit tapi berubah salting memainkan kuku kuku dijarinya.

"Hayooo gimana apanya? Ngomong jangan setengah setengah dong"

"Abisnya gue malu San, gue takut salah ucap"

"Kalo lo salah ngomong lo bisa bilang eeh salah maksud gue nah gitu lo bisa ngomong itu ."

"Ohh gitu. Ya sebenernya gue cuman mau bilang kalo gue nyaman dengan lo"

Gue terkaget kaget, apa jangan jangan melisa udah mulai suka dengan gue dan itu artinya gue bisa menang taruhan ini?. Tapi gak mungkin segampang ini. Kenapa melisa berubah jadi seagresif ini .. Aneh.

"Maksud lo? Gue kurang ngerti" gue agak basa basi padahal gue lihai dengan masalah seperti ini.

"Iya gue seneng kalo didekat lo, soalnya lo seperti melindungi gue dari apapun itu. Dan lo selalu mengingatkan gue dengan kakak kakakan gue yang amat sangat gue rindukan. "
“Maksud lo kakak kakakan itu apa?”

"Dia itu sepupu gue tapi udah deket banget sama gue dan gue menganggapnya kakak gue tapi saat dia berumur 23tahun dia meninggal karena sebuah penyakit yang gakpernah kerluarganya ketahui"

"Gue turut berduka ya, hm supaya lo gak inget dia lagi gue mau kok gantiin kakak kakakan lo itu. Walaupun gue ga bisa bikin lo terlindungi seperti dia melindungi elo"

"Maaf yah gue terlalu ngerepotin hidup lo. Gue cuman butuh temen yang ada disaat kapanpun gue butuhkan dan lo melakukan itu semua buat gue. "

Gue hanya tersenyum ke melisa dan mengacak lembut rambutnya lalu kembali melihat pemandangan indah di atas langit sana.

No Tittle part 3

Semakin hari gue semakin mantap bisa mendapatkan Melisa dengan gampang . Dan gue bisa mendapatkan hp baru.

Sekarang kalo gue ga belajar fisika bareng gue bisa smsan dengan Melisa. Walaupun gue harus siap tekanan batin, gue cerita panjang lebar cuman dibalas “oh gitu” ataupun hanya ketawa kecil “haha” . Baru kali ini juga gue pdkt sama seorang cewek cuek yang sering kali membuat gue kehabisan topic pembicaraan.

Gue sedang kecapean mengumpulkan tenaga seusai pelajaran olahraga dikantin , Resa datang bersama temannya.

"Hoy bos gimana nih?" Sapanya dan ikutan duduk di bangku gue.

"Lumayan lancar Sa, ga terlalu susah. Ditunggu aja lah"

"Gue gak mau lama lama ya sebulan udah cukup lama oke"

"Wah sebulan baru pdktnya kan?"

"Iya sebulan lo pdkt, pas jdian 2minggu lo tinggalin dia kalo dia bisa sampe nangis nangis sama lo gue kasih duit tambahan gimana?"

"Tapi kalo gue ga bisa bikin dia nangis2 gak ada sangkinya ya gue kurang yakin"

Resa hanya memberikan sebuah jempol kepada gue dan pergi meninggalkan gue. Gue pun buru buru menghabiskan minuman itu dan kembali kekelas.

Baru 10hari gue kenal melisa dan waktu gue tersisa 20hari untuk membuat dia bisa jatuh cinta sama gue. Namun sejauh ini makin hari makin banyak perubahan yang diberikan Melisa kepada gue. Dia semakin terbuka sama gue.

Iseng iseng siang ini gue menjemput Melisa disekolahnya tanpa memberikan kabar terlebih dahulu.

"Loh San. Emang hari ini ada jadwal belajar ya?"Tanya melisa saat keluar dari sekolahnya dan kaget melihat gue di depan sekolah.

"Enggak sih cuman iseng aja mau jemput lo. Emang gak boleh ya?"

"Oh tumben aja."

"Lo udah makan siang belom? Temenin gue makan ya.."

"Hm tapi gue ada les jam setengah 5"

Gue lirik jam tangan gue, jam 3 lewat 15.

"Masih lama kok. Makannya juga cuman bentar. Ayuk naik "

Melisa pun naik ke motor gue lalu gue bawa dia ke sebuah cafe yang gak jauh dari sekolahnya dan memesan makanan masing masing.

"Mel… Kalo gue boleh tau, sejauh ini kitakan sering belajar dan jalan berdua. Apa gak ada yang marah?"

"Maksudnya?"

"Hmmm lo udah punya pacar atau belum?"

"Belom"

"Terakhir pacaran kapan? Kalo boleh tau?"

"Udah dari smp. Lagian pacaran ga penting"

"Yah lo belom nemu aja indahnya masa pacaran mangkanya lo bilang gitu. Yakan?"

"Gatau deh gue ga ngerti banyak tentang hal kayak gitu. Gak gue fikirin sih"

"Oh gitu.. Yaudah lanjutin deh makannya"

Gue dan Melisa pun melanjutkan makan siang itu. Setelah selesai makan gue liat mukanya murung gak seperti tadi.

"Kenapa Mel? Ada yang salah ya sama yg gue bilang tadi?"

"Enggak kok.."

"Terus kok bete gitu muka lo?"

"Gue males les San. Tapi gue ga pernah bolos les"

Gue hanya tertawa kecil. Apa Melisa se polos ini ya.

"Lo private sama bimbel?"

"Private."

"Sekarang lo sms guru lo, bilang kalo lo ada acara dadakan dari sekolah dan ga bisa les."

Melisa diam sejenak lalu dia pun mengeluarkan hp dan mengetik sesuatu lalu dia tersenyum kepada gue.

"Udah? Yaudah terus lo mau gue anter pulang sekarang?"

"Jangan.. Gue lagi males dirumah. Terserah lo mau kemana"

gue hanya tersenyum dan membayar semua biaya makan lalu keluar dari restaurant tersebut gue ajak dia kesebuah taman tempat dimana gue dan teman teman gue sering latihan freestyle skateboard. Udah lama banget gue gak kesini.

"Lo tunggu disini ya gue mau minjem papan temen gue dulu"

Melisa hanya mengangguk dan duduk di tempat yang gue suruh tadi, lalu gue meminjak skateboard teman gue dan beraksi didepan melisa,gue lihat dia tertawa dan senyam senyum melihat aksi gue. Udah lama gak latihan membuat semua. Tulang dan persedian gue sangat kaku. Saat gue akan mengangkat kaki gue , kaki gue kaku dan gue terpeleset dan terjatuh ditempat lalu kaki gue terkilir.

"Aawww" teriak gue saat jatuh.

"San.. Lo kenapa?" Kata Melisa yang langsung menghampiri gue.

"Kaki gue..aduh"

Melisa terlihat panik dan tiba tiba mengarah ke kaki gue dan mengurut kaki gue perlahan lahan dari ujung kaki gue sampai betis gue yang terkilir. Tiba tiba aja kaki gue terasa mendingan dan gue bisa berdiri di bopong oleh Melisa.

"Ehhh Sandy kenapa?" Seseorang temen gue menghampiri gue.

"Tadi gue kepleset sob. Kaki gue kekilir" kata gue.

"Yaudah gue anter balik ya"

"Terus temen gue gimana, motor gue gimana"

"Motor lo biar yang lain yang nganter lo sama temen lo naik mobil gue. Oke."

"Makasih banget sob"

Akhirnya gue pun mengantar Melisa pulang kerumahnya baru mengantar gue pulang. Gue tergopoh gopoh masuk kekamar gue lalu menjatuhkan diri gue di tempat tidur. Ah sakit banget kaki gue untuk digerakan, gimana mau bawa motor untuk ketemu melisa kalo kaki gue sesakit ini.

Saat gue sedang tertidur sebuah deringan telfon membangunkan gue. Dan gue sedikit kaget ternyata Melisa yang menelfon gue.

"halo kenapa mel?" Sapa gue.

"Hai San.. Gimana keadaan kaki lo?"

"Udah lumayan baik kok mel. Thanks ya udah diurut tadi jadi ga begitu sakit"

"Oh bagus deh kalo udah baikan. Ohiya kan besok jadwal belajar gimana kalo gue yang kerumah lo aja. Lo tinggal smsin alamatnya"

"Apa itu ga ngerepotin lo mel? Udah gue aja yang kerumah lo. Oke?"

"Jangan . Kaki lo kan lagi sakit. Udah tenang aja entar gue di anterin sama supir kok. Smsin alamat lo ya"

"Yaudah deh entar gue smsin maaf ya kalo ngerepotin"

Melisa pun menyudahi telfon itu, gue sangat bahagia melisa sebegitu perhatiannya sama gue sepertinya dia sudah mulai jatuh cinta dengan gue. Tapi gue ga tega harus meninggalkan dia nanti, bodo deh yang penting harga diri gue gak diinjek injek didepan resa nantinya.

Esok harinya pun Melisa datang kerumah gue pulang sekolah diantar supirnya lalu nyokap gue sumringah menyambut Melisa. Gue dan melisa pun belajar di ruang depan rumah gue.
Namun gue ga memperhatikan sama sekali pelajaran dia, gue hanya memperhatikan betapa cantiknya dia hari ini.

"Lo gak memperhatiin ya? Apa karena kaki lo sakit jadi gak konsen?"

"Enggak kok gue dari tadi nyimak. Ya cuman kaki gue aja terasa nyut nyutan"

Melisa pun menyudahi belajar hari ini dan menutup bukunya.

"Maaf ya mel gue jadi gak enak padahal lo udah jauh jauh kesini cuman untuk ngajarin gue"

"Gue yang merasa bersalah lo kaya gini kan mau menghibur gue, coba kalo gue minta langsung pulang kaki lo pasti ga bakal terkilir"

"Lo gak salah apa apa mel. Gue aja yang salah"

Melisa diam dan menatap gue lekat lekat.

"Mel…makasih ya buat waktu lo selama ini ke gue"

Melisa hanya mengangguk.

"Gue juga seneng kok bisa punya temen sebaik lo walau gue baru kenal lo" kata Melisa.

"Gue gak sangka lo seneng temenan sama gue padahal gue kira, gue cuman menganggu hidup lo."

"Siapa bilang? Sok tau lo. "

"Abisnya lo selalu bete dan jutek kalo liat gue"

"San.. Itu emang mimik wajah gue walaupun gue seneng tetep aja muka gue jutek. Tapi cuman lo temen yang bisa bikin gue happy banget"

Gue cuman speechless gak bisa ngomong apa apa. Kenapa Melisa jadi se agresif ini.

"Dan.. Cuman lo yang bisa bikin gue tertawa dan senyam senyum sendiri liat tingkah lo. Lo temen terbaik gue"

"Gue ga nyangka mel lo bisa anggep gue temen seperti itu. Makasih banget yah mel"

Melisa hanya tersenyum sangat manis. Lalu gue pun menghabiskan sore itu dirumah gue bersama Melisa sampe akhirnya dia dijemput kembali dengan supirnya.

No tittle part 2

Hari ke2.
Sebelum berangkat kesekolah gue menyempatkan diri untuk mengirimkan sebuah sms kepada Melisa.

"Pagi mel… Maaf ganggu, kapan lagi lo mau ngajarin gue fisika? :) "

Sms terkirim.

Gue pun siap siap memasukan hp gue kedalam kantong kemeja seragam gue dan bersiap kesekolah. Baru setengah perjalanan hp gue berdering ternyata ada sebuah sms masuk dari Melisa yang membuat gue terhenti ditengah perjalanan.

"Hari ini gue free. Sekolah libur dan gak ada les. Terserah lo aja. Gue dirumah seharian ini"

Gue berfikir sejenak, ini saat yang bagus! Gue bisa menghabiskan waktu gue bersama Melisa seharian penuh. Gue pun dengan cepat membalas smsnya.

"Pagi ini bisa? Kebetulan sekolah gue juga libur dadakan"

Gue pun memutarkan motor gue dan melaju menuju sebuah kedai nasi untuk sekedar sarapan dan sukses hari ini gue bolos sekolah sekedar untuk seorang Melisa tepatnya bukan untuk dia tapi untuk harga diri gue depan Resa.

Selesai makan hp gue berdering lagi.

"Boleh. Jam 8 ya"

Gue lirik jam tangan gue , jam 7 lewat 15menit. Masih lama gue harus menunggu sebelum akhirnya gue menuju rumah Melisa.

Gue pun menunggu dikedai nasi ini, gue pun bingung harus kemana. Sampai akhirnya jam 7 lewat 45 menit gue bersiap dan bergegas menuju rumah melisa.

Belum juga gue memberi kabar kalo gue sudah didepan rumahnya tapi pintu rumahnya telah terbuka otomatis dan keluar lah seorang satpam.

"Nyari siapa ya mas?"

"Mau ketemu Melisa pak. Tadi udah janjian"

"Oh silahkan masuk."

Pagarnya terbuka lebih lebar dan gue dapat memasukan motor gue kedalam rumahnya. Gue pun menunggu melisa di kursi depan sebelum dipersilahkan masuk.

"Masuk aja" kata Melisa yang nonggol dari arah pintu lalu masuk lagi kedalam.

Gue pun mencopot sepatu lalu masuk kedalam rumahnya Melisa. Masih seperti kemarin, rumah ini begitu sepi seperti tidak ada kehidupan di dalam sini. Cuman ada Melisa dan beberapa pembantunya.

"Dari kemari rumah lo sepi banget yah?"

"Emang selalu begini"

"Bokap nyokap lo kerja ya? Lo ga punya adik atau kakak?"

"Mereka diluar negri pulangnya 2bulan sekali. Gue anak tunggal. Lo mau nanya apa lagi?" Katanya dengan jutek lalu mulai membuka buku Fisika.

Gue cuman diem dan langsung mendengarkan penjelasan dari Melisa. Kalo aja gue belajar sama Melisa dari awal mungkin pelajaran fisika gue bisa dapat nilai 100 disetiap ulangan. Walaupun cara ngajarnya beda banget dari guru fisika gue disekolah, gue bisa lebih paham dan sangat amat mengerti apa yang diterangkan oleh Melisa.

Selesai sudah 3jam bersama Melisa dan tentunya bersama Fisika.

"Mel.. Lo hari ini mau kemana?" Tanya gue basa basi.

"Dirumah aja"

"Gimana kalo kita jalan2? Gue traktir deh.. Daripada lo bosan dirumah"

"kemana?" Melisa masih seriues ke bukunya.

"Kemana aja sesuka lo gue anterin. Ayolaah sekalian gue nyicil hutang budi gue ke lo hehe"

"Gue bukan seperti panci kreditan yang bisa lo cicil"

"Bukan gitu maksud gue mel, gue cuman mau buat lo seneng aja karena lo udah baik sama gue."

"Yasudah terserah lo, gue ganti baju dulu"

"Okee gue tunggu didepan ya"

Melisa hanya mengangguk dan masuk kedalam kamarnya lalu gue keluar dari rumahnya, membuka bagasi motor gue dan menaruh kemeja sekolah gue dan memakai sweeter yang selalu gue bawa di tas gue.

Melisa keluar dengan tshirt dan celana jeans casual membuat dia semakin terlihat cantik , sampai sampai jantung gue ikutan berdetag kencang melihatnya berjalan kearah gue dan naik ke motor gue.

Kamipun bergegas meninggalkan rumah Melisa dan gue mengarahkan motor gue tanpa tujuan.

"Lo udah sarapan belom?"Tanya gue.

"Udah"

"Mau makan?"

"Enggak."

"Terus kita kemana?"

"Terserah"
Buset deh nih orang jawab pertanyaan aja pendek pendek banget. Lagi ngirit ngomong kali ya.
Gue pun membawa dia ke sebuah taman bermain yang terkenal di kota gue.

Awalnya dia masih terlihat bete namun setelah masuk ke taman bermain itu dia seperti kegirangan menarik gue kesana dan kesini menaiki hampir semua permainan di taman ini. Gue baru kali ini melihat dia sebahagia ini . Dia tersenyum sangat lebar dan tertawa sangat bahagia. Mungkin ini yang dia butuhkan, hiburan.

"Ahhh udah San. Gue udah gak kuat mual banget" kata Melisa terlihat kecapean seusai memainkan sebuah permainan.

"Yaudah kita istirahat dulu yuk udah jam makan siang nih"

Melisa hanya mengangguk dan mengikuti gue ke sebuah kios makanan yang terdapat di taman ini. Gue memesan makanan untuk kami berdua. Makanan datang dan Melisa menyantapnya dengan semangat. Sepertinya dia sangat kelaperan.

"Lo udah capek atau masih mau lanjut main mel?"

"Gue masih kuat"

"Oke kita lanjutkan.. Lo senengkan? Atau rencana gue ini garing?"

"Seneng kok. Yaudah kita naik yang itu aja" Kata Melisa menarik gue masuk kedalam antrian.

Ditengah tengah Antrian melisa bercerita banyak, mulai dari orang tuanya yang jarang sekali pulang ke rumah sampai Dia terakhir main ke taman ini saat masih SD.

Menurut gue, Melisa itu sangat butuh perhatian tapi entah mengapa dia malah menjadi pendiam dan sangat jutek. Setau gue orang yang butuh perhatian selalu bertingkah yang mengundang perhatian orang orang di sekelilingnya.

Sekitar jam 4 sore, kami mulai lelah dan memutuskan untuk pulang. Gue mengantarkan Melisa sampe depan gerbang rumahnya.

"Makasih San udah ngajak jalan jalan" katanya sebelum masuk kedalam rumah.

"Sama sama Mel. Sampai jumpa minggu depan ya tapi kalo misalnya lo bete atau bosan lo bisa telfon gue kapan aja lo mau. "

"Oke. Gue masuk dulu ya bye"

Melisa masuk kedalam rumahnya, gue pun bergegas pulang karena badan gue terasa capek sekali.

Sampe dirumah, hp gue berdering ternyata tanda sms dari Melisa .

"San. Kalo lo mau lo bisa kok besok belajar sama gue. Tapi pulang sekolah dan gak sampe jam 6"

wah kesempatan emas lagi! Gue bisa berturut turut bersama Melisa.

"Apa itu gak memganggu waktu lo mel? Kalo gue sih mau mau aja"

Sms balasan terkirim. Gue pun menatap hp gue berharap cepat berdering lagi.

"Enggak. Yaudah pulang sekolah"

"Gue jemput lo di sekolah lo ya seperti kemarin lalu. Oke?"

"Oke San."

Setelah itu gue malah berlanjut smsan sama Melisa, tetep aja dia selalu membalas seperlunya dan sepentingnya.

No judul part 1

Siang ini cuacah begitu terik seakan membakar sebagian dari kulit gue. Keringat pun mengguyur sebagian baju gue. Gue jadi malas untuk melakukan kegiatan outdoor. Gue cancel semua janji gue ke teman teman gue. Mulai dari futsal , sampe kerja kelompok.

Gue menghabiskan siang yang sangat terik itu di kantin sekolah, memesan segelas es jeruk yang menghilangkan dahaga.

Tiba tiba seorang teman gue datang dari arah pintu,

"Wey San gak jadi futsal lo?" Sapa Resa.

"Enggak jadi Res, panas banget gini males banget"

"Yah cupu cowok apaan tuh panas aja takut haha"

"Terserah lo deh yang penting udah gue batalin"

"Gue kesini ga mau ngomongin futsal, gue kesini mau kasih tantangan ke lo."

"Apaan?"

"Nih" Resa menunjukan sebuah foto cewek, orangnya cantik putih dan sepertinya ada keturunan luar negrinya.

"Lo taklukin dia sampe dia sayang sama lo terus lo tinggalin? Gimana?"

"Buat apaan? Emang kenapa sama nih cewek?"

"Sakit hati gue sama nih cewek, gue di tolak mentah mentah. Secara seblumnya gada yang nolak gue jadi gue mau balas dendam biar dia ngerasain apa yang gue rasa"

"Kalo gue bisa, lo mau kasih gue apa?"

"Selama process pdkt gue pinjemin lo motor gue yang mana aja lo boleh pilih, kalo lo bisa bikin dia sayang sama lo gue kasih nih hp gue buat lo"

"Kalo gue ga bisa ataupun gue mundur?"

"Lo bayarin bensin motor.full tank gue 2bulan dan ngasih hp lo ke gue"

Gue mikir sejenak, kalo gue terima gue bisa nyobain semua motor sport yang keren banget itu dan kalo gue berhasil gue bisa dapetin hpnya Resa yang keren banget itu. Tapi kalo gue gagal… Gue ga ngebayangin berapa duit gue harus beliin dia bensin, motornya pasti boros banget apa lagi dalam 2minggu bisa mati gue. Dan lagi hape gue satu satunya.

"Gimana? Ah masa Sandy playboy terkeren terganteng disekolah gak berani sih taklukin cewek kaya gini doang?"

"Yaudah deh gue terima!"


Setelah kejadian itu gue mencoba cari tahu tentang cewek itu yang bernama Melisa. Dan pulang sekolah hari ini gue memutuskan untuk menungunya didepan sekolahnya .

Gue menunggu sampe akhirnya terdengar bel nyaring dari dalam sekolah . Semua murid berhamburan, gue teliti mencari cewek yang bernama Melisa itu di kerumunan orang orang. Dan gue mendapatkannya dia keluar dengan gaya yang super duper jutek. Tapi gak gue sangka ternyata aslinya lebih cantik dibanding fotonya. Gue mencari akal untuk bisa berkenalan.

Dengan Gentle gue pun menghampiri dia yang lagi bete menunggu. Sepertinya menunggu jemputan.

"Hai."Sapa gue.

Melisa hanya melihat gue dari ujung kepala hingga ujung kaki..

"Siapa ya?"

"Gue Sandy. Lo yang namanya Melisa kan?"

"Iya gue Melisa. Lo tau nama gue dari mana?"

"Hmm gue tau lo karena lo pinter fisika kan nah niat gue kesini mau minta bantuan lo buat fisika ini." Gue dapet info dari Resa kalo dia baru aja menang olimpiade fisika.

"oh kenapa harus gue? Lo bisa ikut bimbingan belajar yang lebih bagus dari gue"

"Gue juga udah ikut bimbingan belajar kok tapi gue mau aja nyoba di ajarin sama yang seumur dengan gue mungkin akan lebih efektif buat gue"

"Yaudah lo kapan mau minta ajarin gue tapi gue ga punya banyak waktu"

"Gimana kalo 2x seminggu itu harinya terserah lo aja. Gue bisa bayar kok"

"Oke tapi gue ga terima bayaran lo, duit saku gue masih mencukupi hidup gue"

"Berarti gue hutang budi dengan lo dan gue harus balas itu"

"Itu masalah gampang"

"Yaudah kalo hari ini lo bisa?"

"Bisa sih tapi ga sampe jam 7."

"Oke gapapa . Ayo kita berangkat kebetulan gue bawa motor."

"Kemana?"

"Kerumah lo lah… "

Melisa pun mengikuti gue ke tempat gue memarkirkan motor gue eh maksudnya motor Resa yang dipinjamkan khusus pdkt dengan melisa. Permulaan yang bagus gue bisa dengan lancar kenalan bahkan bisa tau dimana rumahnya.

Gue pun sampai di sebuah rumah yang besar gue kira ini sebuah masjid ternyata rumah. Gak sebesar diluarnya didalemnya begitu munggil dan buat betah sekali.

Gue dan Melisa belajar di ruang tengah, dia sangat lihai sekali mengajari gue. Walaupun gue mangut mangut sok ngerti.

"Hm mel kayaknya sampai sini dulu aja deh? Gue udah mumet nih" kata gue ke dia.

"Oke…"Melisa menutup bukunya lalu membereskan buku buku yang berserakan.

"Makasih banget yah Mel lo mau membuang waktu lo buat ngajarin gue?"

"Iya sama sama. Gue siap siap dulu ya jam 7 gue ada les"

Gue hanya mengangguk dan masih santai duduk di ruang tengah. Gue lirik jam tangan gue, jam 6 lewat 40 menit.

Setelah agak lama, melisa keluar dari kamarnya yang terletak di lantai bawah. Lalu bersiap untuk pergi les.

"Lo les dimana? Gue anterin aja ya? Sekalian jalan pulang"

"Gue les di rumah gurunya daerah Kebalen"

"Itu sih deket dari rumah gue yaudah ayuk jalan udah mau jam 7 nih"

Gue dan melisa pun keluar dari rumah Melisa dan langsung gue kebut motor gue itu menuju tempat lesnya Melisa.

"Makasih ya udah nganterin San"

"Iya sama sama eh iya boleh bagi nomer hp lo kan biar gampang ngehubunginnya"

Melisa pun menyebutkan beberapa digit nomor lalu gue catet di handphone gue. Setelah itu gue pamit dan kembali kerumah gue.

Hari pertama sukses, gue tau rumahnya dan gue tau nomer hpnya. Dan gue makin optimis bisa memenangkan taruhan ini.

without you im nothing :”(

without you im nothing :”(

waiting can make me crazy 

waiting can make me crazy